Rabu, 23 November 2016

memikat hati wanita

Inilah Cara Mudah Membuat Wanita Jatuh CintaHasil gambar untuk kartun muslimah jatuh cinta

Sebagai seorang pria, seharusnya anda tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan hati seorang wanita. Jika anda bisa memahami karakter masing-masing dari mereka, maka menaklukkan seorang wanita bukanlah hal yang sulit. Yang harus anda lakukan hanyalah mengetahui kepribadian mereka, itu saja.

Sebagai perumpamaan, mendekati seorang wanita yang memiliki perilaku pendiam tentu tidak akan sama dengan mendekati mereka yang memiliki sifat banyak bicara. Untuk itu, kami telah merangkum beberapa tips cara mudah membuat wanita jatuh cinta terhadap kita disesuaikan dengan berbagai karakter wanita yang ada, berikut ulasannya:
1. Wanita Tomboy
Dengan berbagai alasan, beberapa pria kurang menyukai wanita yang memiliki sifat tomboy. Dengan sikapnya yang maskulin ini membuat seorang pria merasa sedikit aneh ketika harus berpacaran dengan wanita tomboy. Tapi jangan salah, ternyata wanita yang tomboy cenderung lebih setia terhadap pasangannya lho! Nah, jika kamu adalah salah satu pria yang sedang mengincar wanita dengan tipe ini, berikut tips cara mendapatkan hatinya.
Jangan cuma diam saja, cari tahu kira-kira apa saja hal yang paling ia sukai. Wanita dengan tipe tomboy biasanya menyukai pria yang memiliki hobi sama dengannya. Temukan apa hobinya dan cobalah kamu untuk menyukai hobi apa saja yang juga ia sukai. Dengan cara seperti itu, maka akan sangat mudah bagi kamu untuk mulai menarik perhatiannya.
2. Wanita Pendiam
Mendekati seorang wanita pendiam merupakan sebuah tantangan tersendiri. Banyak teka-teki yang harus diungkap dari sifatnya yang penuh diam dan tanda tanya. Kesulitan yang akan dihadapi, biasanya ketika seorang pria mencoba mendekati wanita dengan tipe demikian, mereka akan kesulitan menilai respon wanita tersebut karena wanita jenis ini, baik saat menolak maupun akan menerima sebuah cinta dari seorang pria ia tetap lebih banyak berdiam diri. Bingung juga ya?
Untuk mengatasi wanita semacam ini sebenarnya tidak terlalu susah jika kita tahu caranya. Baiklah, untuk membuka mulutnya yang lebih banyak terkunci, ajaklah ia berdiskusi sebuah topik yang kira-kira dapat dibahas secara panjang lebar meski itu sebenarnya tidak terlalu penting.Hasil gambar untuk kartun muslimah jatuh cinta
Untuk melihat respon darinya, gunakan naluri lelaki kamu, tataplah matanya dan lihat apakah ia menikmati percakapan dengan kamu ataukah ada mimik wajah yang menunjukkan ketidaksenangan? Jika kamu melihat aura positif di wajahnya disertai dengan respon jawaban-jawaban singkat dari si pendiam ini di sela-sela percakapan kamu dengannya, selamat, berarti ia tidak terganggu dengan kehadiran kamu.
Wanita pendiam biasanya ingin mendapat perhatian hingga sekecil apa pun dari seorang pria yang akan menjadi kekasihnya. Berikan semua perhatian yang diinginkannya, maka dengan mudah kamu akan membuatnya merasa nyaman dan ingin terus bersama kamu.
3. Wanita Jutek
Ada seorang wanita cantik dan ia adalah tipe kamu, namun ketika kamu mencoba mendekatinya justru reaksi jutek yang diterima? Hmm.. Jangan menyerah, justru ini adalah hal yang menarik. Sebagai pangeran berkuda, kamu harus bisa menaklukkan tuan putri cantik, putri yang angkuh namun membuat kamu tak bisa tidur dengan nyenyak.
Hal utama yang mendasari seorang wanita menjadi jutek adalah karena ia tidak suka terhadap sesuatu atau bahkan membencinya, waduh gawat nih.. Ah enggak juga! Banyak kok yang dulu benci sekarang cinta.. ya nggak?
Ini merupakan PR untuk kamu, langkah awal menghadapi wanita semacam ini adalah dengan mencari tahu apa sebenarnya yang membuat si dia selalu jutek terhadap kamu, jika sudah ketemu itu bagus, namun jika tidak ketemu tidak masalah juga, mungkin itu memang masalahnya sendiri, masalahnya memang ia orangnya selalu jutek, he2.. ada juga ya orang model beginian.
Tahukah kamu mengapa seorang wanita menjadi jutek ketika didekati oleh seorang pria? Jawabannya adalah hal itu merupakan sebuah reaksi kimia tubuhnya yang berfungsi untuk memproteksi diri dari adanya benda asing yang tidak dikenali, haduh bahasanya itu loh! Jadi sederhana, untuk membuatnya tidak mengeluarkan reaksi kimia tadi, yang perlu kamu lakukan adalah mengenalnya lebih dekat terlebih dahulu.
Tidak sulit kok, ciri utama wanita jutek dalam menilai pria adalah keseriusannya dalam melakukan sesuatu. Mudah, tidak ada cara khusus untuk mendekatinya, yang perlu kamu lakukan adalah menunjukkan sebuah kesungguhan kamu dan memastikan kepadanya bahwa apa yang kamu lakukan bukan sekedar untuk menggodanya.

Rabu, 09 November 2016

wisata di tuban

Tuban adalah salah satu daerah di Jawa Timur yang terletak di Pantai Utara Jawa Timur. Daerah ini mempunyai letak yang strategis, yakni di perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan dilintasi oleh Jalan Nasional Daendels di Pantai Utara. Pusat pemerintahan 

Tuban terletak 101 km sebelah barat laut Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur dan 215 km sebelah timur Semarang, ibu kota provinsi Jawa Tengah. Oleh karena itu, pada zaman dahulu Tuban dijadikan pelabuhan utama Kerajaan Majapahit dan menjadi salah satu pusat penyebaran Agama Islam oleh para Walisongo.

Tuban sendiri merupakan sebuah daerah yang mempunyai segudang tempat wisata yang sangat indah diantaranya seperti wisata pantai, wisata alam bahkan wisata religi pun semua ada di sini, jika anda ingin berlibur disinilah tempat yang cocok, dijamin anda tidak akan kecewa apalagi jika anda berkunjung dengan sanak saudara, pasangan ataupun keluarga dijamin pasti liburan kalian akan lebih menyenangkan.

Berikut 18 daftar Tempat Wisata Terbaik di Tuban yang wajib harus anda kunjungi jika anda sedang berkunjung ke Tuban

1. Pantai Boom



Pantai Boom adalah semenanjung buatan yang dulunya merupakan bekas pelabuhan kuno pada masa Majapahit, letaknya berada di sebelah utara alun-alun pusat kota Tuban sehingga lokasinya sangat mudah dicapai. Pantai ini telah ditata sedemikian rupa oleh pemda setempat menjadi tempat wisata dengan dibuatnya berbagai fasilitas yang memadai. Baru dipintu gerbang saja, sudah banyak hal menarik yang disuguhkan oleh tempat wisata ini. Tidak jauh dari pintu masuk terdapat sumber air tawar yang mengalir terus menerus. Konon sumur tua merupakan peninggalan belanda, tapi ada juga yang mengatakan ini merupakan peninggalan wali. Di sekitar pantai terdapat jalan yang menjorok ke laut. Jalan ini bisa kita gunakan untuk menikmati panorama laut. Disini juga terdapat beberapa gazebo yang bisa kita gunakan untuk melihat pemandangan saat matahari terbit ataupun terbenam. Sangat menakjubkan.

2. Pantai kelapa



Tempat wisata ini terletak di Panyuran, sebelah timur kota Tuban. Di tempat ini pengunjung bisa melihat rimbunnya pohon kelapa dengan berbagai macam bentuk yang unik. Pohon kelap di tempat ini tidak hanya berdiri tegak namun juga ada yang tumbuh landai dan melengkung. Pengunjung bahkan bisa duduk atau berdiri diatas pohon kelapa yang landai dan melingkung tersebut. Di tempat ini suasanya sangat sejuk dan pemandangannya cukup indah. Tempat ini bahkan telah menjadi lokasi kemah dan juga pelatihan bagi segenap institusi di kota ini. Disini kita juga akan menemukan banyaknya penduduk lokal yang berprofesi sebagai nelayan, dengan berbagai aktifitasnya. Pantai ini sangat indah, teduh dan masih sangat alami. Pantai ini sering dijadikan tempat untuk berkemah juga. Jadi jika kita ingin merasakan beach camp, bisa mencobanya di pantai ini.

3. Pantai Cemara 



Pantai Cemara menawarkan pesona pantai yang ditepinya berjajar pohon cemara yang rindang. Disini Kita bisa berteduh dan menikmati pesona indahnya pantai. Di pantai ini, Kita juga akan menemukan Mangrove Center yang dikelola oleh Bapak Ali Mansur. Untuk mengunjungi pantai dan Mangrove Center ini Kita dibebaskan dari biaya tiket masuk. Kita akan dikenakan biaya hanya untuk penggunaan listrik dan air bersih saja. Kapan lagi coba bisa wisata gratisan gini. Ada berbagai fasilitas seperti gazebo dan juga pondok yang bisa digunakan untuk melakukan pertemuan atau sekedar bersantai. Dipantai ini, Kita bisa bermain air karena pantainya relatif dangkal dan ombaknya tidak begitu besar. Kita juga bisa melakukan kemah disini. Sungguh tempat yang asyik untuk menghabiskan liburan.
4. Pantai Sowan



Pantai Sowan berada ditepi jalan pantura, Dusun Sowan, Desa Bogorejo, Kecamatan Banjar. Pantai Sowan memiliki pemandangan alam yang indah dan eksotis. Tempat wisata ini lebih dikenal dengan sebutan ‘Wana Wisata Sowan’. Di kawasan Pantai Sowa terdapat kawasan hutan di tepi pantai dengan luas sekitar 32 hektar. Berbagai jenis pepohonan tumbuh subur dikawan wisata ini, mulai dari pohon trembesi, klampis dan mahoni. Obyek wisata ini dikelola oleh KPH Perhutani Tuban. Deretan pohon di area pantai ini membuat suasana yang seharusnya terasa panas membuat suasana pantai lebih sejuk dan bisa menjadi tempat bersantai. Buat Kita yang suka berkemah dapat menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat berkemah.

5. Pantai Pasir Putih Remen



Pantai pasir putih ini merupakan tempat wisata baru di Tuban yang menjadi populer setelah beberapa wisatawan yang berkunjung ke Pantai ini mengunggah foto-fotonya di media sosial. Lokasinya berada di Desa Remen, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, berada tidak jauh dari PLTU Tanjung Awar-awar. Pantai pasir putih ini ternyata masih baru lho. Pantai ini resmi dibuka baru pada 22 Pebruari 2015 dan dikelolah oleh pemerintah desa Remen. Terdapat banyak sekali tenda-tenda pedagang berjejer di sekitar pantai, terlihat sederhana yang tertata rapi dan bersih. Pantai ini sangat terjaga kebersihannya, bahkan ada banyak tong sampah disepanjang pantainya. Kalo mampir kesini jangan dikotori yah.

6. Air Terjun Nglirip



Air terjun ini berada di dusun Jojogan Desa Mulyo Agung Kecamatan Singgahan. Jarak Dari Pusat Kota Tuban sekitar kurang lebih 37 KM kearah barat daya. Air Terjun Nglirip menjadi salah satu destinasi wisata alam yang cukup populer di kabupaten tuban. Wisata ini menyuguhkan eksotisme alam yang menakjubkan. Air sungainya berwarna biru tosca pada saat musim kemarau, begitu indah. Air terjun ini memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter. Dibalik pesona keindahan alamnya, tempat wisata ini menyimpan banyak misteri. Kabar mistik bahwa wisata air terjun Nglirip minta tumbal gadis perawan. Bahkan setiap tahunnya, air terjun Nglirip ini selalu memakan korban. Hati-hati kalo berwisata kesini yah, jangan lupa berdoa dulu.

7. Air Terjun Lembah Bongok



Air Terjun Lembah Bongkok yang banyak belum orang tahu. Namun sesampainya di Air Terjun Lembah Bongok, rasa lelah sepanjang perjalanan akan hilang. Indahnya alam sekitar membuat perasaan menjadi sangat tenang. Belum lagi suara burung dan monyet liar membuat refreshing terasa sempurna. Terdapat 2 air terjun indah yang menghiasi tebing batu Lembah Bongok. Pengunjung bisa menikmati sensasi mandi di bawah aliran air terjun. Tak jarang pengunjung juga memanjat tebing untuk berfoto di atas aliran air. Sungguh menyenangkan!

8. Goa Ngerong



Goa ngerong menarik banyak wisatawan lokal, apalagi saat masa-masa liburan. Banyak sekali wisatawan yang ingin mengunjungi Goa ini untuk menyaksikan ribuan kelelawar yang bergantung diatap goa. Selain mempesona dengan keindahannya, goa ngerong ini juga menyimpan mitos atau misteri yang belum terkuak tentang ikan tawes dan kura-kura putih yang ada dikolam kecil didalam goa. Kita dapat menyusuri goa dengan perahu karet sambil menikmati pesona ribuan ikan didasar sungainya sambil kelelawar diatap goanya. Dikedalaman kurang lebih 1000 meter, Kita akan mendapati air terjun. Sungguh sangat menyenangkan menghabiskan waktu liburan disini.

9. Goa Akbar



Tempat wisata ini dikelola dengan sangat baik. Goa ini sudah dilengkapi dengan penerangan dan jalan paving. Adanya penerangan akan membuat Kita mampu menikmati indahnya Staklatit dan Staklamit. Selain pesona Staklatit dan Staklamit yang indah, Kita juga akan menikmati banyak hal lain seperti mushola, paseban wali, tempat wudhu dll. Konon kabarnya goa ini dulu pernah menjadi tempat tinggal Sunan Kalijaga sebelum bertobat menuju jalan yang benar setelah bertemu dengan Sunan Bonang. Wisata Goa Akbar cukup ramai karena lokasinya yang berada dibelakang Pasar Baru, Tuban.

10. Goa Putri Asih



Goa ini terkenal dengan berbagai ornamen batu didalamnya. Ornamen-ornamen itu diantaranya ornamen stalaktit, stalakmit, pillar (penyangga dari ruang kedua dan ketiga), gordyn (ornamen batu karena tetesan air yang sangat tipis hingga membentuk menyerupai kelambu atau selendang), soda strav, flow stone, helektit (batu yang tumbuhnya dari stalaktit yang tumbuh menyamping), heksentrik (batu ini tumbuhnya dari stalaktit tapi tumbuh menyamping kemudian naik keatas), dan calcite floor (berasal dari lelehan flow stone yang men yatu dengan tanah dan membentuk ornamen). Goa ini memiliki 9 ruangan dengan pesona ornamen bebatuan yang beragam. Kita wajib mengunjungi tempat ini untuk membuktikan bagaimana alam memproduksi keindahan.

11. Goa Suci 



Goa Suci ini merupakan GOA Buatan karena bentuknya terlihat terbuat dari pahatan-pahatan. Namun GOA ini dibuat pada zaman dahulu kala, dengan pembuktian terdapat angka jawa 1026 yang menunjukkan tahun di sekitar pahatan tersebut. Goa yang unik ini dikatakan sebuah goa yg merupakan peninggalan kerajaan majapahit. Goa yang terletak disekitar penambangan Batu kapur ini memiliki banyak keunikan, diantaranya GOA ini konon katanya sering dibuat semedi orang-orang baik dari dalam maupun luar daerah untuk mediatasi menenangkan fikiran dan nurani maupun untuk mencari sebuah ilmu kebatinan. Selain Goa in di Tuban juga terdapat Goa Pesantren Perut Bumi yang dijadikan sebuah pesantren, tempat wisata, dan juga sebgai tempat meditasi.

12. Goa Kancing



Goa kancing ini tak seperti goa pada umumya yang ada di tuban seperti Goa Ngerong rengel dan goa-goa lainya. Goa kancing memiliki ciri khas tersendiri yaitu goa kancing ini berupa lubang mirip seperti sumur. Loh kok sumur ?.. iya  kedalaman cuma sekitar 4-5meter aja loh. Disamping goa atau lubang itu terdapat cekungan yang juga tak terlalu dalam. Tetapi letak keunikan dari goa kancing bukan dari goanya tetapi pada 2 tebing batu yang berdiri kokoh tepat diatas mulut goa, dan tempat ini cocok banget buat kamu kamu yang suka selfie ria atau hunting foto.

13. Pemandian Bektiharjo



Pemandian Bekti Harjo  adalah sebuah pemandian yang konon menjadi cikal bakal kota Tuban. Tempat wisata di Tuban ini merupakan pemandian dengan mata air yang terus mengalir dan tidak pernah surut saat kemarau. Menurut penduduk sekitar dan para tetua, pemandian ini diyakini sebagai asal usul Tuban yang berarti “MeTu Banyune” yang di dalam bahasa Indonesia berarti Keluar Air atau adanya Mata Air. Di sekitar Pemandian Bekti Harjo juga ada sekelompok kera liar yang sangat jinak dan tidak suka mengusili para pengunjung. Anda dapat bermain dengan kera dan memberi makan untuk dapat mengajak kawanan kera ini bermain. Disini juga ada fasilitas kolam renang buat anak dengan seluncuran dan permainan lain. Jadi pemandian ini sangat nyaman untuk tempat berlibur bersama keluarga dengan membawa anak-anak.

14. Pemandian Air Panas Prataan



Tempat pemandian ini ada ditengah hutan kecil. Air panas di pemandian ini berasal dari sumber alami. Konon, warga sekitar percaya jika sumber Air Panas Prataan dapat menyembuhkan berbagai penyakit diantaranya penyakit kulit, gatal-gatal, encok, rematik, dan berbagai penyakit lainya. Bahkan banyak sekali orang-orang dari luar kota yang datang kesini untuk menguji khasiatnya.

15. Watu Ondo



Wisata ini berada di bektiharo desa, kecamatan semanding, Tuban kabupaten, sekitar 5 KM dari pemandian bektiharjo, lokasi yang disebut "Watu Ondo" dalam bahasa Indonesia artinya "TANGGA BATU". wisata tempat-tempat seperti tangga terbuat dari batu, dengan kombinasi tangga dengan tebing berbatu (gampeng). Di sini juga ada jalan yang biasanya digunakan oleh dekitar warga untuk mengambil air dan menyiram ladang, naik denagn wato ono bahwa harus ada keseimbangan dan kekuatan yang diperlukan. Wisata ini adalah lalu lintas akses mbogor dusun oleh ngendut dusun dan dusun sencang oleh Medokan dusun terletak dusun mbogor dengan Medokan dusun di atas tebing, sekitar 20-30 meter, dan lokasi ngendut dusun dan Medokan dusun di bawah tebing. 

16. Sunan Bonang



Makam Sunan Bonang tak pernah sepi dari peziarah. Masuk kemari, kamu akan melewati beberapa gapura bergaya Hindu-Islam yang otentik. Lalu, kamu bisa melihat cungkup makam asli rendah dan kecil dibawah naaungan cungkup yang megah. Pas banget buat ngadem sekalian berzikir. Selain menjadi pelabuhan penting di era Majapahit, Tuban juga menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa; tak heran kalau kota ini dijuluki Kota Wali. Di pusat kota kamu bisa menemukan makam salah satu Walisongo yang tersohor itu, yaitu Sunan Bonang. Tahu lagu Tombo Ati? Nah, itu adalah salah satu karya Sunan Bonang yang digunakan untuk berdakwah.
17. Ponpes Perut Bumi Al-Maghribi



Ponpes Perut Bumi Al-Maghribi yang letaknya di dalam goa. Makanya jika kita berkunjung ke tempat ini akan memberi pengalaman istimewa buatmu. Ponpes Perut Bumi Al-Maghribi dibangun di dalam goa alami yang telah mati dan terbengkalai. Kini, ornamen-ornamen goa seperti stalagtit dan stalagtit telah mengeras menjadi batuan kapur dan bersinergi harmonis dengan bangunan ponpes beserta masjidnya. Kini, ponpes yang digagas oleh Kyai Subchan Mubarok ini menjadi salah satu daya tarik bagi peziarah dan wisatawan. Datang aja ke Desa Gedongombo, Kecamatan Semanding. Kamu juga bisa menyumbang untuk pembangunan ponpes ini, lho.

18. Museum Kambang Putih



Hasil gambar untuk museum kambang putih tuban
Museum Kambang Putih Terletak di Jalan Kartini No 3, Tuban. Museum yang berada di pusat kota ini terletak berdekatan dengan  Masjid Agung Tuban dan Makan Sunan Bonang. Museum ini berdiri pada tanggal 4 Januari 1984 namun baru berfungsi sebagai sebuah museum dua bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 28 Maret 1984. Museum ini dapat Anda kunjungi pada hari Selasa s/d Minggu dengan jam operasional dari pukul 07.00 s/d 14.00. Namun museum ini tutup lebih awal pada hari Jum’at yaitu pukul 11.00 dan hari Sabtu pukul 12.00. Museum ini menyimpan berbagai koleksi seperti barongsai, wayang kulit, wayang golek, guci kuno, senjata tradisional, fosil, naskah kuno dan yang lainnya.

asal mula toak tuban


Tradisi Tuak dan Peran Perempuan Tuban
Produksi dan Persebaran Tuak
Hasil gambar untuk toak tuban
Pesisir Tuban, Jawa Timur, jika dipandang dari laut bagai secuil buih, putih berpadu dengan tanah merah. Cuaca di kawasan ini jelas panas. Penduduk setempat mengandalkan mata pencaharian dari hasil laut. Namun, yang berada di pedalaman mengandalkan pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sayangnya, tidak semua lahan pertanian subur, karena hanya kawasan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo yang bisa mendapatkan pasokan irigasi yang cukup.
Sebaliknya, di wilayah tengah Kabupaten Tuban membentang Pegunungan Kapur Utara, yang rangkaiannya membentang dari Pati Jawa Tengah, hingga Tuban di Jawa Timur. Dari luar deretan bukit-bukit Pegunungan Kapur Utara hanya berupa batu-batu cadas dan kapur, menyembul secara variatif dari balik tanah merah. Tak banyak vetegasi tumbuhan yang bisa hidup di kawasan ini.
Corak dominan yang menghijaukan bukit-bukit Pegunungan Kapur Utara adalah tanaman aren. Orang-orang Tuban menyebutnya Wit (Pohon) Bogor dan Pohon Bambu. Bentuknya mirip pohon kelapa, yang membedakan bentuk daun dan buahnya. Daun Pohon Bogor lebar, mirip telapak kaki cicak, antar jemari ada selaputnya, sehingga terlihat lebar, tidak terurai kecil-kecil seperti daun kelapa. Buah Pohon Bogor disebut enau, atau dalam istilah lokal Tuban disebut ental atau siwalan, dan istilah latinnya Borassus sundaicus. Vegetasi Pohon Bogor ini banyak tumbuh di kawasan tengah Kabupaten Tuban, yang meliputi beberapa kecamatan antara lain; Kecamatan Palang, Semanding, Montong, Merakurak, dan Kerek.
Bermodalkan struktur ekologi inilah, warga setempat membangun kebudayaannya dari dulu hingga kini. Menjamurnya Pohon Bogor, dimanfaatkan warga setempat dari generasi ke generasi untuk sumber ekonomi. Ketika saya menggali lebih dalam, dari berbagai sumber primer, dan teks-teks kepustakaan, tidak banyak yang memberi jawaban sejak kapan orang-orang di kawasan ini mahir mengolah Pohon Bogor.
Namun, dari cerita lisan dan beberapa sumber tradisi, produksi dan minum tuak telah berjalan berabad-abad lamanya. Misalnya pada abad 11 Masehi, ketika bala tentara Tar-Tar dari Mongolia yang telah mengalahkan bala tentara Kerajaan Daha (Kediri), singgah di Tuban dan merayakan pesta kemenangan dengan minum tuak dan arak. Pada masa keemasan Kerajaan Singasari, Raja Kertanegara juga gemar minum tuak untuk perayaan-perayaan kerajaan. Tuak menjadi minuman yang melintas batas kelas, dari seorang petinggi negeri seperti raja hingga para petani biasa.
Di beberapa komunitas adat (lokal) di Nusantara, tradisi produksi dan minum tuak juga telah berlangsung lama, dan bertahan hingga kini. Dalam annual report yang dibuat oleh Shigehiro Ikagemi1 (1997; Part 5) menuliskan tradisi produksi dan minum tuak pada Komunitas Adat Batak. Diceritakan oleh Ikagemi, Komunitas Adat Batak Toba menggunakan tradisi minum tuak dalam acara-acara keagamaan yang telah berlangsung lama, dari generasi ke generasi. Bahkan, dalam tradisi Batak Toba, perempuan Batak Toba yang baru saja melahirkan diwajibkan untuk minum tuak dalam ukuran yang terbatas.
Di komunitas adat lainnya seperti beberapa suku di Bali dan Lombok, juga memiliki kebiasaan minum minuman beralkohol. Sampai kini, sangat dikenal jenis arak Bali. Bahkan arak Bali memiliki beberapa jenis. Sejenis dengan arak Bali, beberapa komunitas adat di Lombok memiliki minuman fermentasi yang populer dikenal dengan arak, ada pula yang menyebutnya brem. Komunitas Dayak di Kalimatan Tengah juga memiliki minuman tradisi yang dikenal dengan baram. Selama ratusan tahun yang lalu, baram menjadi properti ritual untuk memberi penghormatan kepada roh-roh leluhur.
Di tangan orang-orang Tuban, dari generasi ke generasi, kuncup bunga pohon Bogor diolah menjadi minuman tradisi, yang dikenal dengan nama legen dan tuak. Legen, minuman yang diambil dari “getah” kuncup bunga. Kuncup bunga itu dinamakan Wolo. Wolo ini diikat sebanyak 3 atau 4 wolo, kemudian tetesan “getah”nya ditampung selama sehari atau semalam. Tetesannya ditampung ke dalam bambu yang ditali, dikaitkan dengan kumpulan tangkai bunga Bogor yang telah diiris sebelumnya. Dalam istilah warga Tuban, bambu itu dinamakan Bethek.
Legen terasa manis, bercampur dengan “rasa soda” yang bersifat alami karena diproses dari alam secara langsung. Minuman ini tidak bisa bertahan lama. Rata-rata 4-5 jam sejak diambil dari penampungannya, legen sudah tidak bisa dikonsumsi lagi. Rasanya sudah berubah menjadi asam, dan jika diminum, membuat perut sakit.
Sama seperti legen, tuak juga bersumber dari “getah” irisan tangkai bunga pohon Bogor. Yang membedakan dengan legen, bambu untuk menampung “getah” tangkai bunga Pohon Bogor dicampuri dengan Bebekan. Ada beragam jenis bebekan. Warga Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Tuban lebih gemar membuat bebekan dari pelepah kulit Pohon Juwet.
Pelepah kulit Pohon Juwet dikeringkan, lalu dicincang, namun tak sampai lembut, cukup serat-serat kulitnya terurai. Tiap tetesan “getah” yang ditampung dalam bambu akan bercampur dengan bebekan. Percampuran kedua unsur inilah yang membentuk minuman tuak. Berbeda dengan warga Prunggahan kulon, warga Desa Tegalbang dan Tunah, Kecamatan Semanding, Tuban membuat bebekan dari pelepah kulit Pohon Mahoni.
Bebekan dari kulit pohon Mahoni rasanya sangat pahit, sehingga rasa tuaknya juga terasa pahit, dan rasa manis yang tipis. Sedangkan bebekan dari kulit pohon Juwet lebih variatif, perpaduan rasa manis, sedikit gurih, dan sedikit asam. Sama seperti legen, tuak juga tidak bisa bertahan lama. Dalam tempo 4-5 jam sejak diambil dari Pohon Bogor rasanya telah terasa pahit dan asam. Sebagai minuman hasil fermentasi, tuak mengandung alkohol tidak begitu tinggi. Menurut kajian Garjito, dkk (2004:94), kadar alkohol yang terkandung dalam tuak sebesar 2 – 4 persen.2
Jika dibandingkan dengan minuman bir pilsener hasil pabrikan, kadar alkhohol yang terkandung di dalam tuak jelaslah lebih rendah. Rata-rata kadar alkohol bir antara 5-10 persen. Tuak bahkan jauh lebih rendah kadar alkoholnya jika dibandingkan dengan wine yang alkoholnya mencapai 15 persen.
Dalam relasi produksi minuman tuak dan legen, kaum perempuan di Tuban memegang posisi penting. Rata-rata pembuat bebekan tuak adalah kaum perempuan. Otomatis, penentu selera tuak menjadi enak atau tidak sangat bergantung bebekan yang dibuat kaum perempuan. Semakin cermat membuat komposisi bebekan, tentu semakin memikat bolo ngombe (komunitas peminum tuak) untuk memburu tuaknya.
Selain menghasilkan “getah” untuk produksi legen dan tuak, bagian-bagian pohon Bogor masih memiliki kemanfaatan bagi penduduk setempat. Pelepah daunnya, oleh orang Tuban disebut lontar, dipakai oleh petani tadah hujan dikawasan ini untuk membuat penutup kepala (caping). Beberapa tahun yang lalu, sebelum plastik mulai menggantikan, anyaman daun lontar dipakai oleh penduduk setempat sebagai tempat nasi. Lontar dianyam, mirip ketupat, namun dalam ukuran besar. Anyaman ini dipakai untuk tempat nasi dan lauk pauknya saat acara kenduri di kampung-kampung. Warga setempat menyembutnya tumbu.
Di akhir tahun 90-an, saya sudah jarang melihat properti ini dipakai dalam kenduri di kampung-kampung di Tuban. Beberapa orang tua perempuan yang biasa menganyam tumbu telah meninggal dunia. Produksi dan penjualan tumbu di pasar telah tergantikan dengan plastik. Praktis, tumbu tak lagi menghiasi pasar-pasar di Tuban.
Komposisi lain yang bernilai manfaat dari pohon Bogor adalah buahnya. Pada umumnya masyarakat menyebutnya buah Siwalan atau Ental. Buah ini mengandung air, selain selaput biji dalamnya yang lembut. Rasanya manis, segar, sangat cocok dinikmati di cuaca panas seperti Tuban. Saat belum dikelupas kulitnya, buah Siwalan dapat dikonsumsi hingga beberapa hari kedepan, sejak pengambilan dari pohonnya.
Dari pohon Bogor inilah, para petani tegal di Tuban membangun kebudayaannya dari hari ke hari. Tuak yang berumur tua, seumuran dengan sejarah Tuban sendiri, telah menjadi citra diri orang-orang Tuban, meskipun sebagian lainnya, yang menganut keislaman secara “kuat” menolak mengidentikkan Tuban dengan tuak.
Sekilas, “batas-batas kultural” di Tuban seolah nampak jelas, mirip-mirip gambaran Clifford Geertz melalui proyek Mojokuto-nya. Di wilayah dekat pesisir, corak keislamannya lebih kuat ketimbang yang di pedalaman selatan. Apalagi komunitas santri yang bermukim di sekeliling Makam Sunan Bonang. Warga di luar kampung ini umumnya menyebut dengan Kampung Arab, dikarenakan sebagian besar penduduknya adalah warga keturunan Arab, yang sudah berabad-abad tinggal di kawasan ini sebagai pedagang.
Dulu, sekitar tahun 80-an, sebelum mengguritanya proyek-proyek industrialisasi di Tuban, bersebelahan dengan Kampung Arab adalah kampung para priyayi, pegawai-pegawai pemerintah. Kini, batas-batas itu tak nampak berbeda. Migrasi penduduk yang begitu cepat menjadi warna menentukan atas geo-identitas beberapa kampung di Tuban, dan mungkin di tempat lainnya. Konsekuensi pertumbuhan kawasan di Tuban telah membuka pusat-pusat pemukiman baru, yang lebih beragam identitasnya.
Berbeda dengan pesisir utara, tradisi keagamaan orang kampung di kawasan Tuban Selatan masih memberi wadah untuk praktik mistik Islam Jawa, sebagaimana konsepsi Mark Woodward tentang Islam Jawa (1999:226).3 Sebab sebagian kelompok sosial ini kurang menyukai praktik keagamaan Islam secara normatif.
Kira-kira sedikit asumsi Woodward di atas bisa menggambarkan kontur sosio-religiositas warga di kawasan ini. Mayoritas penduduk Kecamatan Semanding dan Palang Kabupaten Tuban beragama Islam, namun banyak di antara mereka yang sampai kini meminum tuak dan arak. Bahkan kedua minuman itu menjadi penopang kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Karena pohon Bogor bernilai ekonomis, para pemilik pohon Bogor dapat menransaksikan atau menjualnya kepada pihak lain. Satu pohon Bogor bernilai ratusan ribu, sangat tergantung kondisi pohonnya. Saat telah diperjualbelikan kepada pihak lain, pemilik tanah tidak mengenakan tarif sewa tanah atas keberadaan pohon Bogor yang dijualnya. Pembeli pohon Bogor dapat mengambil nilai ekonomisnya sampai pohon tersebut tidak berproduksi.
Dalam sehari, setiap pohon Bogor bisa menghasilkan 1 – 2 liter tuak atau legen. Semakin banyak seseorang memiliki pohon Bogor di tanah tegalan (sawah tadah hujan), otomatis petani itu akan semakin banyak menghasilkan tuak atau legen. Para petani tuak di Tuban mengambil tuak sehari dua kali, yakni pagi dan sore. Hasil tuak atau legen yang diambil pagi hari, dijual dengan memasok ke warung-warung kecil untuk jatah peminum menjelang siang.
Sedangkan tuak atau legen yang diambil siang hari, dipakai sebagai pasokan peminum tuak untuk sore sampai malam hari. Tuak dan legen yang diambil kemudian didistribusikan ke warung-warung sekeliling Kota Tuban dan Semanding. Dahulu, hingga akhir tahun 80-an, saya masih sempat menyaksikan penjual tuak dan legen keliling. Kini teramat sulit untuk menemukannya. Hasil unduhan tuak dan legen langsung dipasok ke warung-warung, bersanding dengan bir dan beberapa jenis minuman garapan industri.
Bagi petani penghasil tuak dan legen, tuak dan legen miliknya bisa dijual sendiri di rumahnya, atau dijual langsung ke warung-warung penjual tuak dan legen. Jika petani penghasil tuak dan legen memasoknya ke warung-warung, tentu mereka hanya mendapatkan keuntungan sedikit, jika dibandingkan dengan menjualnya secara langsung ke konsumen. Bagi petani yang menghasilkan tuak dan legen dalam jumlah banyak, biasanya didistribusikan ke warung-warung, dan ia hanya menyisakan sedikit untuk dijual di rumahnya.
Persis seperti peran pentingnya dalam proses produksi tuak, kaum perempuan di Tuban juga memegang peran sentral dalam proses distribusi tuak. Mayoritas penjual tuak dan legen di warung-warung adalah kaum perempuan. Untuk mengundang bala ngombe datang ke warung jualannya, perempuan penjual tuak tak harus muda, apalagi dandanan menor (make up mencolok), dan berbusana seksi.
Berbeda dengan daerah lain, yang mengandalkan perempuan muda, busana super seksi untuk menarik konsumen, para bala ngombe tuak di Tuban lebih mengedepankan rasa akan tuak. Rata-rata para perempuan penjual tuak memang wanita yang telah berumur. Tak ada kesan untuk “menjual” keseksian tubuh perempuan dalam arena bala ngombe.
Memang tak seluruh warung-warung di Tuban menyediakan tuak. Sifat tuak yang tak bisa bertahan lama, secara tak langsung menghambat distribusinya. Hanya warung-warung di sekitar Kecamatan Tuban, Semanding, Palang dan Plumpang yang kerap menyediakan tuak. Persepsi masyarakat atas tuak sebagai minuman yang diharamkan agama juga ikut membentuk terbatasnya peredaran tuak di masyarakat.
Selain warungan, memang ada beberapa “pos” dadakan saat sore hingga malam hari, sebagai lokasi penikmat tuak untuk minum bareng, selain di warung-warung. Beberapa di antaranya di Lapangan Sepak Bola Sleko, bekas Stasiun Kota Tuban, pojokan perempatan Karang Waru, semuanya di pinggiran Kota Tuban. Lokasinya cenderung sepi, agak remang-remang, namun nyaman untuk minum dan ngobrol kesana kemari.
Dalam beberapa kali mengikuti dan berbaur dengan bolo ngombe, ada banyak variasi pembicaraan, dengan berbagai topik. Suatu sore4, di tahun 2010, saat mengikuti perbincangan bala ngombe di dekat perempatan Karang Waru, mereka membicarakan soal pemilihan Bupati Tuban yang akan dilaksanakan di tahun berikutnya. Dalam perbincangannya, mereka mulai bosan dengan kepemimpinan Bupati Haeny Relawati. “Duitnya Dul Hasan, ape digawe apa? Donnyane wong Tuban dikuras Dul Hasan kabeh. (Uangnya Dul Hasan akan dibuat apa? Harta kekayaan orang Tuban sudah diambil Dul Hasan5 semua).
Parabala ngombeitu melihat kepemimpinan Bupati Haeny Relawati lebih banyak dikendalikan oleh suaminya yang menjadi pengusaha, ketimbang Haeny secara pribadi. Mereka juga membicarakan kekayaan suami Haeny Relawati yang melimpah ruah dengan membangun rumah mirip istana, beserta koleksi mobil antiknya yang berjumlah puluhan. Pada sore berikutnya, saya mengikuti bala ngombe cangkrungan bersama minum tuak di kawasan Sleko, Tuban. Sore itu bala ngombe membicarakan akan adanya tayuban di daerah Bektiharjo. Mereka satu per satu mengulas kemungkinan Sindir (penari tayub) yang kemungkinan akan diundang pada acara itu. Selain itu juga membicarakan kemungkinan adanya lowongan kerja berat (kuli bangunan) di kawasan perumahan di Karang Indah.
Sore yang ketiga kalinya, saya mengikuti bala ngombe di sebuah ladang di Desa Tegal Agung, Kecamatan Semanding, Tuban. Topik pembicaraan bala ngombe sore itu menyoal pertengkaran artis seksi Julia Perez dengan Dewi Persik. Kebetulan peserta bala ngombe saat itu semuanya anak muda yang, meskipun telah ada yang menikah namun rata-rata umurnya masih di bawah 40 tahun.
Para peminum tuak rata-rata kelas pekerja berat, buruh kayu (blandong), tukang becak, kuli bangunan, dan kondektur bis rute lokal. Bagi mereka yang berdaya beli rendah, minum tuak adalah pilihanya, selain faktor tradisi dan soal selera tuak yang tak bisa digantikan oleh jenis minuman apapun. Tuak rata-rata dijual Rp. 1.500 – 2.000 per centak. Ditambah tambur (makanan pengiring) berupa nasi jagung, sayur lodeh, lauk, serta kacang. Lauk pauknya biasanya dari beragam jenis daging hewan yang mudah didapat dan murah, seperti bekicot, belut, katak. Para peminum biasanya tak sampai menghabiskan uang Rp. 10.000 sudah merasa puas.
Keuntungan kecil tapi rutin juga dirasakan para penjual tuak. Saminah, 58 tahun warga warga Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Tuban merasakan seperti itu. Janda empat anak ini hidup seorang diri di rumahnya yang lebih pantas disebut gubuk daripada rumah tempat tinggal. “Menjual tuak tak perlu modal cukup banyak mas. Kalau menjual bir atau lainnya, tentu butuh modal besar. Itupun belum tentu tiap hari langsung laku. Kalau menjual tuak modalnya lebih rendah, dan setiap hari sering habis, sebab warga di kampung sini tiap hari menikmati tuak, terlebih menjelang sore dan malam hari sehabis kerja seharian,” ujar Saminah.
Rata-rata perempuan penjual tuak seperti Saminah dalam sehari bisa menjual 20 liter tuak, dan makanan pengiringnya (tambur). Praktis, Saminah dapat mengantongi keuntungan 15 sampai 25 ribu rupiah per hari. Nominal yang sangat penting bagi kelangsungan kebutuhan ekonominya. Berjualan tuak, oleh kebanyakan perempuan warungan di Tuban menjadi penyangga ekonomi keluarga. Memang, bagi sebagian pedagang, berjualan tuak dan tambur menjadi penghasilan sekunder. Penghasilan primernya dari hasil bercocok tanam.
Belakangan, di saat sektor pertanian apalagi pertanian tegal terpuruk, perempuan warungan yang menjual tuak dan tambur tumbuh menjadi mata pencaharian substitutif. Kalangan keluarga seperti ini tentu sangat berharap bala ngombe tetap ada, dan bahkan mungkin berkembang, agar dapur mereka tetap mengepul.
Dalam sehari masa produksi, tak seluruh minuman tuak habis, beberapa penjual tuak biasanya menimbun “tuak kadaluwarsa”. Setiap dua atau tiga hari sekali ada beberapa pengepul yang membeli tuak kadaluawarsa tersebut. Untuk 20 liter tuak kadaluarsa bisa dibeli oleh pengepul sebesar Rp. 5.000. Nilai yang cukup berarti bagi para penjual tuak, daripada minumannya terbuang.
“Tuak-tuak kadaluwarsa ini banyak dibawa ke Lamongan dan Surabaya. Katanya diolah lagi dan dijual di sana,” ujar Likanah, 41 tahun warga Desa Ngino Kecamatan Semanding, Tuban. Beberapa pengepul yang saya ajak berbicara soal tuak kadaluwarsa enggan untuk membuka resepnya. Mereka hanya menyampaikan bahwa yang kadaluwarsa perlu diolah lagi dengan direbus dan dicampuri ragi dan bahan pengawet. Pasca pengolahan ini, tuak kadaluwarsa tersebut bisa bertahan berhari-hari.
Di Lamongan dan Surabaya, tuak olahan ini bisa dijual secara variatif antara Rp.5.000 – 7.000 per liternya. Berbeda dengan tuak fresh di Tuban yang diperjualbelikan secara bebas, dan terbuka di warung-warung, bahkan di pinggir jalan untuk melayani bala ngombe, tuak kadaluwarsa yang diolah kembali cenderung ditransaksikan secara tertutup dari tangan ke tangan, dan dari mulut ke mulut.
Peralihan formasi dan habitus tuak, dari tuak alami ke tuak olahan memang membawa pergeseran dan persepsi yang kian memperburuk tafsir atas tuak. Diperdagangkannya tuak olahan di luar Tuban telah menempatkan tuak sebagai “barang kriminal”. Apalagi, cerita-cerita kematian dari beberapa peminum tuak olahan menjadi fakta ikutan yang ikut membangun persepsi menakutkan tentang minum tuak.
Kontruksi tuak saat keluar dari Tuban telah bergeser total, sayangnya bala ngombe meskipun menyadari hal itu, toh mereka tak bisa berbuat banyak. Transaksi tuak kadaluwarsa pada kenyataannya memang menguntungkan para penjual tuak. Sementara kegemaran bala ngombe minum tuak juga dipenuhi oleh para perempuan penjual tuak di warung-warung tersebut. Meski begitu, bala ngombe tampaknya tak memusingkan kontruksi tuak dan cap negatifnya.[]

.